Ternyata realisasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebenarnya masih minim. Minimnya realisasi itu memang beralasan. Rumitnya perizinan dan besaran tarif yang terlalu rendah menjadi salah satu ganjalan dalam percepatan realisasi PLTMH.
Menurut Direktur PT Heksa Prakarsa Teknik Kusetiadi Raharja, meski tergolong masuk bisnis potensial, cukup banyak investor yang menarik diri dari bisnis ini.
"Potensinya memang besar tapi sampai sejauh ini belum termanfaatkan secara maksimal karena banyak investor yang menarik diri lantaran sulitnya memperoleh ijin dan harga jual produk yang dihasilkan dinilai terlalu rendah," katanya.
Investor sering mengeluhkan proses memperoleh ijin usaha tersebut yang harus mengantongi restu dari kepala daerah serta ijin pemanfaatan sumber air yang ada di satu daerah.
Padahal, teknologi dan infrastruktur pengolahan air menjadi listrik ini sudah tersedia di Indonesia dan biaya investasi yang dibutuhkanpun cenderung tidak terlalu besar.
Untuk membangun sebuah pembangkit mikrohidro dibutuhkan investasi sekitar Rp20-30 juta per kilowatt (KW).
Dari jumlah investasi tersebut, lebih dari 50% anggaran terserap untuk biaya pembangunan infrastruktur seperti penyediaan pipa, saluran, lahan, dan lain-lain. Padahal, investasi teknologinya hanya sekitar Rp5-10 juta per kWh.
Sayangnya, harga jual dari produk yang dihasilkan dari teknologi ini sangat rendah, sehingga banyak investor berpikir ulang.
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM RIno 31 tahun 2009 tentang harga pembelian oleh PT PLN dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengan atau kelebihan tenaga listrik, harganya dianggap sulit mengejar raihan biaya investasi.
Dalam Permen tersebut dijelaskan, PLN hanya diharuskan membeli listrik mikrohidro Rp656 per kwH dikali F (frekuensi tegangan) jika terinterkoneksi pada tegangan menengah, dan Rp1.004 per KWh jika terinterkoneksi pada tegangan rendah.
“Sejauh ini pemanfaatan produk kami cukup baik, terutama di listrik pedesaan yang menggunakan sistem bantuan pedesaan. Tapi untuk pemanfaatan pada pihak swasta, masih belum maksimal karena terhambat oleh ijin dan tarif rendah tadi,” jelasnya.
Pengembangan produk yang dilakukan oleh Heksa Prakarsa Teknik mendapat dukungan dan transfer teknologi dari GTZ-Jerman dan SKAT/entec ag-Swiss untuk manufaktur turbin dan rekayasa mikrohidro, Smith Associates-Inggris untuk manufaktur Induction Generator Controller, G.P. Electronics-Inggris untuk manufaktur ELC.
Sejak 1992 Heksa telah membangun dan mensuplai lebih dari 70 lokasi mikrohidro dengan kapasitas 1 KWh sampai dengan 240 KW, dan beberapa produk sudah terinstalasi di Uganda, Zaire, Papua Nugini,Tanzania, Serawak, Kamerun, Nepal, Philippina, dan Sabah.
Heksa selalu mendapat kepercayaan dari Dinas ESDM di sejumlah wilayah untuk berperan dalam proyek listrik perdesaan. Meskipun program ini sukses dijalankan di pedesaan sayangnya tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap pengembangan produk pada sektor swasta.
Mikrohidro, jelas Kusetiadi, tidak saja dapat memenuhi kebutuhan listrik untuk penerangan. Akan tetapi, dapat digunakan untuk menunjang kegiatan produktif skala kecil seperti pengolahan hasil pascapanen dan industri kerajinan rakyat.
Selain menyediakan teknologi dan infrastukutr alat, Heksa juga melakukan site survey dan desain teknik untuk kapasitas sampai dengan 1000 KW, manufaktur, site construction dan comissioning untuk kapasitas sampai dengan 400 KW, dll.
Produk Heksa saat ini setidaknya sudah terinstalasi di beberapa daerah yakni Mikrohidro Long Lawen Malaysia pada 2001 terletak di kawasan Sungai Tekulang, Belaga, Serawak, Malaysia.
Di tingkat lokal, produk Heksa juga dipakai di Cipaleubuh Garut (2002) di Kampung Garung, Desa Panyindangan, Kecamtan Cisompet Kabupaten Garut Jawa Barat, dan lain-lain.
Heksa Prapakrasa Teknik mengaku kesulitan untuk memperluas jaringan pemasaran terutama pada sektor swasta di Indonesia karena masih sedikitnya investor yang merealisasikan rencana bisnis mereka akibat perizinan dan tarif.
Meski demikian, saat ini Heksa mampu merekrut 40 orang tenaga kerja dengan kapasitas produksi didukung sedikitnya 50 unit turbin.