JAKARTA: Menteri Pertanian Suswono mengaku belum mendapatkan laporan terkait dengan kasus tertahannya kontainer daging impor yang tidak dilengkapi dengan surat persetujuan pemasukan (SPP)yang benar.
"Sampai saat ini saya belum mendapatkan laporan secara terperinci mengenai kasus penahanan kontainer berisi daging impor itu. Nanti saja [penjelasannya] ya, ujarnya ketika ditanyakan Bisnis, seusai mengikuti rapat koordinasi di kantor Menko Perekonomian Rabu pekan ini.
Sebelumnya, Wakil Ketua komisi IV DPR Firman Subagyo mengungkapkan telah mendapatkan informasi mengenai penahanan kontainer berisi daging impor di pelabuhan Tanjung Priok. Saya sudah mendapatkan informasinya dari Dirjen Peternakan Prabowo Respatiyo Caturroso, ujarnya.Dari informasi Dirjen Peternakan dan Kepala Badan Karantina, kata Firman, terdapat 22 kontainer dan masih ada di perjalanan 44 kontainer lagi. Angka ini bisa berubah lagi sesuai dengan informasi terbaru dari Badan Karantina, katanya.
Firman menyatakan semua daging impor yang ditahan di pelabuhan itu terbukti antara realisasi volume yang masuk tidak sesuai dengan SPP. Menurut dia, masalah ini perlu mendapatkan penjelasan dari pemerintah. "Jika tidak mendapatkan penjelasan maka saya khawatir masalah seperti ini akan terus terjadi dan pada akhirnya menghambat program swasembada daging sapi 2014. Menteri dan jajarannya perlu memberikan penjelasan," tegasnya.
Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini menjelaskan status dari keseluruhan kontainer di Tanjung Priok itu dalam posisi pengendapan peti kemas. Semua kontainer itu memiliki SPP. Hanya saja jumlah yang tertera dalam SPP dengan realisasi berbeda. Belum ada tindakan penahanan tapi hanya pengendapan peti kemas, ujarnya.
Oleh karena itu, kata Banun, para importir diberikan kesempatan untuk mengurus administasi yang belum lengkap.
Sumber Bisnis menyatakan hingga Senin lalu tercatat 62 kontainer berisi daging impor asal Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada masih tertahan di pelabuhan Tanjung Priok. Jumlah ini dapat bertambah dan berkurang, katanya.
Dia mengatakan semua kontainer itu memiliki SPP, tapi jumlahnya yang ada di SPP dan realisasinya tidak sama. Sebagaian importir sudah mulai mengurus SPP dan melengkapi kekurangan administrasinya.
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Teguh Boediyana menyatakan Menteri Pertanian dan jajarannya perlu memberikan penjelasan mengenai kasus ini. Saya tidak tahu kenapa data kontainer yang masuk juga berubah-ubah seperti ini, katanya.(bas)