Ketua FASA Johnson W. Sutjipto mengatakan organisasi pelayaran se-Asia Tenggara ini memiliki konsen yang tinggi dalam rangka meningkatkan keamanan pada pelaut dan kapal berbendera negara anggota Asean di dunia.
Menurut dia, kawasan laut yang kini paling rawan dari aksi pembajakan di dunia adalah Teluk Eden di Somalia dan Samudera Hindia, bahkan area aksi para pembajak hingga sejauh 60 mil laut.
Karena itu, perlunya IMO mencarikan terobosan dalam mengatasi masalah ini, katanya sore tadi dalam jumpa pers disela-sela pertemuan tahunan atau The 36th Annual General Meeting Federation Asean Shipowners Association (FASA), sore ini.
Dia menjelaskan kejahatan pembajakan yang semakin gawat tersebut telah menimbulkan dampak secara psikologis terhadap pelaut di dunia, tidak terkecuali pelaut dan kapal asal Indonesia yang melayani rute Teluk Eden maupun Samudera Hindia.
FASA mengharapkan bantuan Pusat Keamanan Laut Afrika (Maritime Security Centre-Horn of Africa) dan didukung oleh negara-negara di dunia untuk menghentikan praktek pembajakan kapal yang semakin meluas ini.
Di dunia, berdasarkan laporan ASF, kasus pembajakan terhadap kapal selama 2009 naik hampir 40%, terutama di perairan Somalia dan Teluk Aden yang mencapai 217 kasus pembajakan atau 53,45% dari total kasus pembajakan di dunia selama 2009.
Pembajakan terhadap kapal-kapal niaga dunia terus berlanjut hingga 2010. Data terbaru ASF mencatat hingga Mei tahun ini sekurang-kurangnya ada delapan kapal dan 160 pelautnya yang masih menjadi hostage (sandera) para pembajak Somalia.
Pada Januari 2010, kapal Pramoni, sebuah kapal berbendera Singapura milik warga negara Norwegia yang di dalamnya terdapat 17 awak berkewarganegaraan Indonesia menjadi korban pembajakan di perairan Somalia.
Kapal Pramoni tersebut dibajak di Teluk Aden dalam perjalanan dari Eropa menuju India. Tetapi, pembajakan yang melibatkan pelaut dari Indonesia tersebut bukan yang pertama kali terjadi.
Selama periode 2006-2009, Kementerian Luar Negeri RI mencatat sembilan kali pembajakan kapal dari berbagai negara yang di dalamnya terdapat awak kapal berkewarganegaraan Indonesia di perairan Somalia dan sekitarnya.
Berdasarkan laporan Kemenlu, selama kurun waktu itu, sudah 74 awak kapal Indonesia yang menjadi korban pembajakan di perairan Somalia. Setelah kasus pembajakan itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan peringatan agar menghindari perairan tersebut.