Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nelayan di Kebumen belum berani melaut

KEBUMEN, Jateng: Para nelayan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, selama tujuh hari terakhir belum berani melaut karena gelombang cukup tinggi sekitar empat meter yang dapat membahayakan keselamatan mereka.

KEBUMEN, Jateng: Para nelayan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, selama tujuh hari terakhir belum berani melaut karena gelombang cukup tinggi sekitar empat meter yang dapat membahayakan keselamatan mereka. "Belum berani melaut, sudah tujuh hari ini, gelombangnya masih cukup tinggi dan berbahaya untuk melaut," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kebumen Saman di Kebumen Senin. Beberapa waktu lalu, puluhan perahu nelayan yang sedang diparkir di berbagai kawasan Tempat Pelalangan Ikan (TPI) setempat rusak dihantam gelombang pantai karena tiupan angin yang cukup kencang. Hingga saat ini, katanya, perahu nelayan masih diparkir di berbagai tempat di sekitar TPI. Di Kabupaten Kebumen terdapat delapan TPI yakni Rowo (Kecamatan Mirit), Tegalretno dan Tanggulangin (Klirong), Criwik (Puring), Pasir, Logending, dan Argopeni (Ayah), serta Menganti (Karangduwur). Ia menjelaskan, tiupan angin saat ini tidak terlalu kencang tetapi ombak berjarak pendek yang biasa disebut nelayan setempat sebagai "marug" sehingga menyulitkan laju perahu. "Untuk tabur jaring tidak bisa. Arah air laut antara permukaan dengan bawah tidak sama. Yang atas lari ke timur dan bawah ke barat sehingga sulit untuk mencari ikan," katanya. Ia mengatakan, nelayan setempat aman melaut lagi jika gelombang setinggi antara dua hingga tiga meter. Para nelayan setempat, katanya, saat ini bekerja secara serabutan antara lain menjadi buruh bangunan, bertani, dan berternak. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Kebumen Suhartilah membenarkan bahwa hingga saat ini nelayan setempat belum melaut karena gelombang laut yang masih cukup tinggi, sedangkan perahu mereka pada umumnya berkapasitas kecil. "Padahal musim saat ini sebenarnya sedang bagus untuk melaut dengan hasil tinggi terutama untuk tangkapan udang dan bawal putih," katanya. Pada situasi normal, katanya, mereka biasa melaut di zona I-III atau sekitar tiga mil laut dari pantai. Pihaknya telah mendata nelayan setempat untuk rencana penyaluran bantuan pangan kepada mereka. Rencananya, pihaknya menyalurkan kepada nelayan sekitar 66 dari total 100 ton beras cadangan pemerintah kabupaten setempat. "Sedang kami proses realisasi penyalurannya, secepatnya kami salurkan bantuan beras itu sesuai dengan ketentuan yang berlaku," katanya. Tiupan angin kencang hingga 20 kilometer per jam dan gelombang tinggi hingga empat meter beberapa hari lalu telah mengakibatkan sekitar 30 perahu nelayan setempat dengan total nilai Rp350,6 juta rusak dan hilang. Total kerugian akibat peristiwa itu mencapai sekitar Rp514 juta. "Kami sudah meminta nelayan waspada terhadap kondisi laut saat ini, mereka kami imbau menambatkan perahunya di tempat yang aman," katanya. (ant/ajz)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Newswire

Topik

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper