Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Hasil pencarian "auto reject atas"
  • Polisi Sebut Wabup Sangihe Wafat Karena Sakit Menahun

    Hukum
    14 Juni 2021 13:59 WIB
    Berbagai spekulasi atas kematian wakil bupati membuat penyidik meminta keluarga untuk melakukan autopsi terhadap almarhum Helmud Hontong.
  • Berlanjutnya PPnBM Nol Persen Beri Sentimen Positif ke Pasar Otomotif

    Bisnis Otomotif
    13 Juni 2021 18:07 WIB
    Upaya pemerintah untuk memperpanjang diskon pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM sebesar 100 persen sampai dengan Agustus diyakini memberikan sentimen positif terhadap pasar otomotif dalam negeri.
  • PENGGALANGAN DANA : Tren ARA Saham Perdana Masih Berlanjut

    Korporasi
    11 Juni 2021 02:00 WIB
    Bisnis, JAKARTA — Tren lonjakan harga saham perdana hingga menyentuh batas atas di Bursa Efek Indonesia masih berlanjut pada tahun ini. Euforia di kalangan investor atas saham debutan menjadi penyebabnya.nHarga saham dua emiten anyar yang kemarin resmi melantai di bursa, PT Ladangbaja Murni Tbk. (LABA) dan PT Triniti Dinamik Tbk. (TRUE), langsung melejit hingga menyentuh auto rejection atas (ARA) saat pertama kali diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.nSaham LABA membuka perdagangan pada level Rp125 per saham dan langsung melesat 34,4% ke level Rp168 per saham.nLadangbaja menawarkan sebanyak 200 juta lembar saham kepada publik atau 20% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga penawaran Rp125 per saham. Dengan demikian, perseroan meraih dana segar mencapai Rp25 miliar dari IPO.nARA juga dialami saham TRUE yang melejit 35% menjadi Rp135 sesaat setelah perdagangan dibuka kemarin pagi. Kapitalisasi pasarnya tercatat Rp1,02 triliun.nPadahal, pada perdagangan perdana kemarin hanya ada 65 lot saham TRUE yang berpindah kepemilikan. Di akhir perdagangan masih ada antrean bid atau permintaan 680.648 lot saham TRUE.nSelama masa penawaran umum pada 3—4 Juni 2021, saham TRUE mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) sekitar 201,09 kali dari porsi penjatahan terpusat.nTren yang terjadi pada saham yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui initial public offering (IPO) terus langgeng sepanjang 2021. nTercatat, ARA di hari pertama perdagangan juga terjadi pada 16 saham di antara 20 emiten baru yang melantai di bursa tahun ini.nVice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan pergerakan harga saham satu emiten hingga terkena auto rejection atas umumnya disebabkan oleh adanya tekanan beli yang lebih tinggi dibandingkan tekanan jual.n“Kemungkinan besar karena investor yang membeli saat IPO tidak langsung menjual sahamnya, sehingga terjadi tekanan beli,” kata Frederik kepada Bisnis, Kamis (10/6).nDia menambahkan, fenomena ini juga terpicu adanya kebebasan auto reject batas atas setelah IPO yang bisa mencapai 35% sehingga investor yang berhasil membeli saham IPO tidak buru-buru melepas kembali sahamnya.nDia mengatakan, saat momentum IPO, kerap terjadi euforia di kalangan investor untuk membeli saham debutan karena harga rata-rata di pasar belum tercipta sehingga terdapat peluang keuntungan.nSenada, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengamini bahwa memang ada pola pikir di kalangan investor bahwa saham yang baru listing akan memberikan return yang lebih tinggi sehingga mereka berebut melakukan pemesanan.n“Untuk dapat saham IPO itu kan harus memesan dan itu terbatas, jadi waktu due diligence pasti ada yang nggak kebagian. Ini nanti ramai dikejar di pasar sekunder. Makanya ARA,” kata Reza, kepada Bisnis, Kamis (10/6)nMenurutnya, kenaikan yang terjadi di beberapa hari pertama saham IPO biasanya murni karena mekanisme pasar akibat perburuan saham debutan dan tidak mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan terkait.nDia menyangsikan mayoritas investor telah membaca prospektus IPO suatu emiten sehingga berniat membeli sahamnya. Akan tetapi, berbeda jika orientasi investor membeli suatu saham IPO memang ingin menjadi bagian dari perusahaan tersebut.n“Kemungkinan pelaku pasar nggak serta merta mempelajari emiten itu. Apa iya semua investor ada waktu membaca prospektus yang ratusan lembar itu? Jadi dikhawatirkan mereka belum sepenuhnya memahami hanya tau info sekilas-sekilas lalu beli,” ujarnya lagi.nDi luar hal itu, Reza menilai tren ARA pada saham-saham debutan bukan merupakan hal negatif. Namun dia menyebut investor terutama segmen ritel perlu sangat berhati-hati untuk masuk dalam saham IPO karena rentang terjebak pada volatilitas harga.n“Contohnya saham LUCY yang ARA di awal perdagangan, tapi kemudian terus merosot bawah harga IPO nya bahkan sempat di bawah Rp50 per saham. Sekarang pun masih Rp50-an,” tuturnya.nSaham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) sempat melesat 10% menjadi Rp110 per saham pada hari pertamanya di lantai bursa. Namun saham perusahaan pemilik dan pengelola Lucy in the Sky itu terus merosot di hari ke-3 dan seterusnya. Bahkan sempat menyentuh Rp39 per saham pada 27 Mei 2021 sebelum rebound ke Rp56 per saham kemarin.nSaham lain yang turun setelah IPO adalah Fimperkasa Utama Tbk. (FIMP). Harga penawaran perdana saham PIMP ditetapkan Rp125, dan sempat naik ke Rp137, tetapi saat ini harganya sudah turun ke level Rp56 per saham.nSaat ini ada dua calon emiten lain yang akan IPO yaitu PT Bank Multiarta Sentosa Tbk. (MASB) dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI). (Dwi N. Tari/Finna U. Ulfah)
  • 16 Saham IPO Kena Auto Reject Atas (ARA), Kenapa Bisa Terjadi?

    Bursa & Saham
    10 Juni 2021 19:42 WIB
    Saat momentum IPO, kerap terjadi euforia di kalangan investor untuk membeli saham debutan karena harga rata-rata di pasar belum tercipta.
  • Saham BABP Milik Hary Tanoe Disuspensi, BBHI Milik Chairul Tanjung Unjuk Gigi

    Perbankan
    10 Juni 2021 10:57 WIB
    Ketika BEI memutuskan untuk mensuspensi BABP, di saat yang sama, harga saham Bank Harda yang dimiliki oleh Chairul Tanjung justru semakin unjuk gigi dan naik hingga hampir mentok level ARA (auto reject atas). 
  • Prospek IPO Archi Indonesia dan Bank Mas Saat IHSG Melaju

    Rekomendasi
    07 Juni 2021 22:00 WIB
    Saham IPO biasanya memiliki harga yang belum terbentuk dengan stabil, sehingga kemungkinannya untuk mencapai auto reject atas (ARA) masih sangat tinggi.
  • Efek Anthoni Salim, Saham DCI Indonesia (DCII) Melesat 20 Persen

    Bursa & Saham
    03 Juni 2021 15:40 WIB
    Saham dengan kode DCII itu menguat 20 persen menjadi Rp19.800 pada Kamis (3/6/2021) Senin sehigga terkena auto rejection atas (ARA)
  • 10 Saham Top Gainers Hari Ini, Kamis 27 Mei 2021, BABP, BCAP, HERO Masuk

    Bursa & Saham
    27 Mei 2021 17:23 WIB
    Saham PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) melonjak 35 persen atau 42 poin menjadi Rp162. Saham BABP pun menyentuh batas atas auto rejection atau ARA.
  • Kabar Baik! Kemenperin Mau Perpanjang Insentif PPnBM hingga 2022

    Mobil
    24 Mei 2021 17:17 WIB
    Kementerian Perindustrian berencana memperpanjang masa berlaku kebijakan relaksasi pajak pembelian atas barang mewah (PPnBM) hingga 2022.
  • Toyota Raize Dikabarkan Inden Lama, Bagaimana Langkah Auto2000?

    Bisnis Otomotif
    20 Mei 2021 23:59 WIB
    Kepopuleran Raize sejalan dengan tingginya antusiasme konsumen atas kebijakan relaksasi pajak pembelian atas barang mewah (PPnBM). Mobil ini tercatat masuk sebagai penerima program PPnBM bersama tujuh model lainnya.
Top